Larangan Berpacaran dalam Islam Islam melarang keras perzinahan. Oleh karena itu, Islam juga melarang perbuatan-perbuatan manusia yang menjerumuskannya pada dosa zina. Salah satu jebakan “sukses” Iblis agar manusia jatuh dalam zina adalah perangkap “pacaran”. Artikel singkat ini, diharapkan menyadarkan generasi muda bahwa pacaran akan berakibat fatal dan merusak masa depan.
(أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ، إِلاَّ مَحْرَمٍ. (رواه أحمد
Artinya: Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya (Ahmad). Pacaran
Pacaran atas nama Cinta? Pacaran adalah proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan istilah pernikahan Salah satu kriminalitas dalam hubungan pacaran adalah mengatas namakan “cinta”. Bukan, sebenarnya pacaran itu atas nama syahwat, bukanlah atas nama cinta. Banyak gadis yang tertipu dengan rayuan gombal pacaran yang mengatas namakan cinta. Maka ternodalah harga diri dan kehormatannya. Dimulai dari rayuan, saling memandang wajah kekasih, pegang tangan, belai rambut, pada akhirnya sampailah pada permintaan-permintaan nafsu dan syahwat; cium tangan, cium kening sampai terjadilah perbuatan yang dilarang oleh agama. Jika pacaran benar-benar mengatas namakan cinta. Maka, seharusnya masing-masing pihak tetap menjaga kehormatan dan kesuciannya. Tidak terlena dengan bujukan syetan dan bisikan hawa nafsu sesaat. Sebab tujuan cinta adalah kebaikan dan kedamaian. Cinta membawa manusia bermartabat dan terhotmat. Cinta itu anugerah Allah SWT untuk manusia.
Pro dan Kontra Pacaran Kenapa pasangan remaja melakukan pacaran?. Berdasarkan hasil survey dan wawancara penulis didapatkan data bahwa golongan yang pro pacaran menyatakan sebagaimana berikut: a) Memperoleh teman curhat. b) Memperoleh teman ngobrol. c) Buat nulis status di Media sosial. d) Biar gak ketinggalan jaman. e) Pacaran untuk motivasi belajar. f) Manusiawi, sebab semua orang pernah jatuh cinta. g) Boleh, asal jangan berlebihan. h) Penyemangat hidup, dll. Sedangkan data yang diperoleh dari golongan remaja yang kontra pacaran adalah sebagaimana berikut: a) Islam melarang pacaran. b) Lebih suka jomblo. c) Takut Keblabasan. d) Lebih fokus belajar. e) Pacaran bikin Baper. f) Pacaran merusak akhlak. g) Pacaran berakibat free sex. h) Dilarang orang tua, dll. Terlepas dari pro dan kontra di atas, maka sebenarnya secara psikologis, pantaskah pasangan remaja muslim melakukan perbuatan dosa di masa-masa sedang menempuh tahap belajar baik di pesantren, sekolah maupun kampus. Sejatinya, semakin cerdas seseorang, semestinya mampu berfikir lebih bijak dan santun dalam bertindak. Bahaya-
Bahaya- bahaya Fatal Berpacaran: Jatuh pada dosa zina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925) Kriminalitas aborsi meningkat. Di Indonesia, data statistik mencapai 1,3 juta per tahun. Jumlah kematian karena aborsi melebihi korban kematian sebab perang dan penyakit. Daniel S. Green dari Washington Post mengatakan bahwa pada tahun 2006, di Amerika setiap tahun ada 550.000 orang yang meninggal karena kanker dan 700.000 meninggal karena penyakit jantung. Jumlah ini tidak seberapa dibandingkan jumlah kematian karena aborsi yang mencapai hampir 2 juta jiwa (janin) di negara itu. Kematian ibu muda melahirkan meningkat. Sebanyak tiga puluh persen dari angka kematian ibu melahirkan (AKI) diakibatkan oleh aborsi atau pengguguran kandungan. Aborsi terbesar dilakukan oleh remaja perempuan di perkotaan. 30 persen angka kematian ibu disebabkan oleh aborsi atas kehamilan di luar nikah. Aborsi tersebut dilakukan oleh perempuan di perkotaan sebesar 78 % dan perempuan di pedesaan sebesar 40 %. Menghilangkan Waktu Belajar. Waktu belajar sangatlah berharga bagi remaja. Bagaimana tidak, sebab waktu belajar tidaklah lama. Pada masa kuliah, satu semester pada masing-masing matakuliah hanya ditempuh sebanyak 16 pertemuan saja. Kaus yang dijumpai oleh penulis. Banyak pelajar yang putus sekolah atau putus kuliah sebab patah hati dengan pacarnya. Kasus lain membuktikan bahwa konsentrasi sebagian remaja juga menurun sebab urusan patah hati dengan pacar yang ditikung oleh teman sendiri. Jika diteruskan, maka pelajar tidak ada waktu untuk kerjakan tugas guru/dosen sebab repot dengan acara jalan-jalan dengan pacar. Perasaan Bersalah dan Berdosa. Proses pacaran yang tidak direstui oleh orang tua adalah pacaran yang penuh dengan kebohongan. Tiap kali remaja berbohong kepada orang tua, hanya demi menemui kekasihnya di luar rumah. Model pacaran back street (tanpa restu orang tua) sering kali mengecewakan pihak orang tua dan keluarga. Remaja sering berbohong tentang uang jajan dan uang belanja bulanannya. Alih-alih mendapat ketenangan, justru pacaran yang dilakoninya berbuah penyesalan dan kehancuran bagi masa depan remaja. Sedangkan model pacaran yang kebablasan sering kali menyebabkan perasaan bersalah dan berdosa. Bersalah kepada orang tua karena sering berbohong dan menutupi fakta. Bersalah kepada guru dan lembaga karena melanggar kode etik siswa/mahasiswa. Bersalah kepada pasangan karena berdalih cinta, namun justru merenggut kehormatannya. Model pacaran yang berlandaskan tanpa norma agama (free sex) menyebabkan perasaan merasa bersalah. Bersalah kepada Allah SWT karena melanggar syari’atNya.
Bersalah kepada pasangan karena telah menodai kesuciannya. Bersalah kepada calon anak yang dikandung oleh pasangannya karena melakukan hubungan sex pra nikah. Perasaan bersalah dan berdosa menimbulkan sifat minder atau tidak percaya diri di hadapan orang lain. Tidak ada cara lain, kecuali bertobat kembali kepada ajaran Agama Islam. Kesimpulan Pertama, Islam melarang pacaran sebab menjadi sarana untuk berzina. Kedua, Islam memperkenalkan istilah “ta’aruf” yaitu proses perkenalan sebelum nikah dengan didampingi oleh muhrim (orang tua). Ketiga, Pacaran yang dilandaskan pada nafsu dan syahwat akan mengakibatkan hancurnya nama baik keluarga.